DESA REMBANG DAN POTENSI BUNGA SEDAP MALAMNYA YANG MENDUNIA

profile desa rembang metrosoerya

Rembang, metrosoerya.com – Siapa sangka Desa Rembang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan adalah penghasil bunga sedap malam bertaraf internasional? Berikut penuturan dari Kepala Desa Rembang H. Mokh. Yani.

Desa Rembang adalah sebuah desa yang mempunyai luas wilayah 299 hektar dan membawahi 4 dusun, antara lain Dusun Rembang 1, Dusun Rembang 2, Dusun Rembang 3 dan Dusun Rembang 4. Jumlah penduduknya 6300 jiwa dan 70% penduduknya bekerja sebagai petani bunga sedap malam. Namun ada yang disayangkan, para petani ini tidak mempunyai pasar tersendiri, sehingga hasil dari bunga tersebut dibeli oleh tengkulak. Sudah bisa dipastikan para tengkulak ini keuntungannya luar biasa.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah desa belum mengetahui berapa rupiah harga jual bunga sedap malam tersebut dari petani kepada tengkulak. Sedangkan pengiriman bunga ini terbesar adalah ke pulau Bali, dalam sehari bisa mencapai 6 kontener.

H. Mokh. Yani selaku Kades Rembang menginginkan Desa Rembang ini semakin maju dan akan mengadakan perobahan-perobahan untuk meningkatkan perekonomian. Baik itu dari segi pertanian maupun perdagangan. Mayoritas penduduk Desa Rembang adalah petani, seperti petani bunga sedap malam, petani padi, petani jagung dan khususnya petani cabai yang mendapat program dari pemerintah.

“Kami selalu berusaha bagaimana desa ini agar tidak hanya mengandalkan bunga sedap malam, tetapi juga ada pertanian semacam cabai dan kami juga mengajukan dalam tahun 2016 kita dapat cabai dengan luas 10 hektar, sedangkan untuk tahun sekarang 5 hektar. Itu didapat dari pemerintah”, jelas Yani.

Selaku Kepala Desa yang bertanggung jawab kepada warganya, Yani berharap disetiap lembaga pendidikan yang berada di Desa Rembang itu mengambil tenaga guru dari wilayah Desa Rembang sendiri. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan tersebut tidak pernah berkoordinasi dengan pemerintah desa. Sedangkan di Desa Rembang banyak sarjana-sarjana yang tidak kalah saing prestasinya dengan para sarjana dari luar desa tersebut.

“Harapan kami sekiranya masyarakat kami itu bisa mendidik di desa kami”, ungkap Yasin. “Bahkan lembaga-lembaga pendidikan tersebut terkesan tidak menghiraukan himbauan dari Kepala Desa”, punkas M. Yani (dndg/ing)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *